Monday, December 6, 2010
Harmony Islam Religion of Peace - Aloys Budi Purnomo PTeologi Wedhabakti, Yogyakarta (1996), my lecturer Prof. Dr. H. Amin Abdullah, opened my understanding, that Islam is a religion of peace and promoting harmony. Therefore, Muslims are obliged to build a life in peace and harmony with everyone, all people, regardless of religion and belief. A true Muslim life in the spirit of total submission to God, which is peace.
The word Islam is rooted from the Arabic word, SLM, nouns derived from Aslama which means surrender to God. That is why Islam nuanced peace, harmony, and resignation. Islam is a religion that is based on total submission to Allah.
Borrowing the idea of Mary Jameelah in Islam in Theory and Practice (Lahore, Sant Nagar, 1967:37), any person who converts to Islam is called Muslim. A true Muslim will not be a fanatic, but loves peace, promote harmony and security for others.
In Arabic, the word used for harmony is ta'aluf. Ta'aluf means intimacy, closeness, harmony, and intimacy, and mutual understanding. Another word for harmony in Arabic is tawafuq, meaning that approval,
agreement, treaty, and suitability, appropriateness, harmony (J Milton Cowan, ed, A Dictionary of Modern Written Arabic, London, Macdonald & Evans Ltd., 1974).
Islam is a tolerant religion as lived by the Prophet Muhammad after the conquest of Mecca. At that time, the Prophet made it clear to everyone, including the enemies are conquered, to continue to feel comfortable and safe. In fact, the churches and synagogues still be holding their worship services and without having overwhelmed with fear.
The experience of the Prophet Muhammad gave an overview and understanding to us of the face image of Islam as a religion of peace and harmony. Prophet Muhammad was chosen by God to preach the message of peace and harmony. And that's what the real face of Islam, uphold tolerance.
Dr Haykal, scientists from Egypt, Director of Islamic Studies in Madrid confirmed, the Prophet Muhammad is a big figure in the history of humanity because of the attitude and the nature of his amazing. Because the Prophet changed history, a living example of morality for humanity throughout the ages (Pascal Paulus OP, Harmony in Islam, 2002: 161).
Thus, the life of Prophet Muhammad provides a good illustration, beautiful, and bright to us on the face of Islam as a religion of harmony. He was the model for Muslim life and a teacher of humanity that puts the peace and harmony. Therefore, I agree with Jamal MA Al-Nessafi, Kuwait Ambassador to Indonesia, in 2002, which confirms that most moslems in Indonesia love peace.
Strategic Steps To face of Islam of peace and harmony can be displayed in this country, five of which contemplated the idea of Dr. Syed Rifat (Focus, 2002:162), an Egyptian intellectuals, politicians, and journalists need to be a strategic action figures of Islam in Indonesia.
First, Islam must be freed from the hands of Muslims who abuse the name of selfish interests that actually tarnished the face of Islam. Second, youth of Islam to hold the ideals, values and principles of true Islam and humanist.
Third, Islamic intellectuals have joined hands to form and develop a more humane society based on Islamic authority. Fourth, it takes courage to reject various admixture of religion and religious ideas are extreme, radical, and the fundamentalists. Fifth, work with mass media to transform lives with the light of thought and Islamic authenticity.
Hopefully more and more Muslims in Indonesia shows the authenticity of a true face of Islam as a religion which preached peace, harmony, and harmony among mankind. Let us live in peace as brothers and sisters who both inherited the faith of our fathers Abraham, the sacrifice, sincerity, and obedience is remembered on the feast of Eid al-Adha. Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H. (10)
- Aloys Budi Purnomo, religious, cultural interreligius, Chairman of the Commission on Interfaith Relations and Trust of the Archdiocese of Semarang
Source: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/16/130303/Harmoni-Islam-Agama-Damai
Senin, 06 Desember 2010
Harmoni Islam Agama Damai – Aloys Budi Purnomo Pr
24 11 2010
KETIKA mengikuti Islamic Studies di Fakultas Kepausan Teologi Wedhabakti, Yogyakarta (1996), dosen saya Prof Dr H Amin Abdullah, membuka pemahaman saya, bahwa Islam adalah agama damai dan mengedepankan harmoni. Karenanya, umat Islam berkewajiban membangun hidup dalam damai dan harmoni dengan siapa saja, semua orang, apapun agama dan keyakinannya. Seorang muslim sejati hidup dalam spirit of total submission to Allah, yang adalah damai.
Kata Islam berakar dari kata Arab, SLM, kata benda yang diturunkan dari aslama yang berarti penyerahan diri kepada Allah. Itulah sebabnya Islam bernuansa damai, harmoni, dan penyerahan diri. Islam adalah agama yang dilandaskan pada penyerahan total kepada Allah.
Meminjam gagasan Maryam Jameelah dalam Islam in Theory and Practice (Lahore, Sant Nagar, 1967:37), setiap orang yang menganut agama Islam disebut kaum muslim. Seorang muslim sejati tidak akan menjadi fanatik, tetapi cinta damai, mengedepankan harmoni dan rasa aman bagi sesama.
Dalam bahasa Arab, kata yang dipakai untuk harmoni adalah ta’aluf. Ta’aluf berarti keakraban; kekariban, kerukunan, dan kemesraan, dan saling pengertian. Kata lain untuk harmoni dalam bahasa Arab adalah tawafuq, artinya persetujuan,
permufakatan, perjanjian, dan kecocokan, kesesuaian, keselarasan (J Milton Cowan, ed, A Dictionary of Modern Written Arabic, London, Macdonald & Evans Ltd, 1974).
Islam juga agama yang toleran sebagaimana dihayati oleh Nabi Muhammad SAW setelah menaklukkan Makkah. Kala itu, Sang Nabi menegaskan kepada setiap orang, termasuk para musuh yang ditaklukkan, untuk tetap merasa nyaman dan aman. Bahkan, gereja-gereja dan sinagoga-sinagoga tetap boleh menyelenggarakan pelayanan dan ibadah mereka tanpa harus dirundung ketakutan.
Pengalaman Nabi Muhammad memberi gambaran dan pemahaman kepada kita mengenai citra wajah Islam sebagai agama damai dan harmoni. Nabi Muhammad dipilih Allah untuk mewartakan pesan damai dan harmoni. Dan itulah makna wajah Islam yang sesungguhnya, menjunjung tinggi toleransi.
Dr Haykal, ilmuwan dari Mesir, Direktur Islamic Studies di Madrid menegaskan, Nabi Muhammad adalah figur besar dalam sejarah kemanusiaan karena sikap dan sifat hidupnya yang mengagumkan. Karena Sang Nabi mengubah sejarah, menjadi contoh moralitas hidup bagi kemanusiaan sepanjang zaman (Pascal Paulus OP, Harmony in Islam, 2002: 161).
Dengan demikian, kehidupan Nabi Muhammad SAW memberi gambaran yang baik, indah, dan cerah kepada kita mengenai wajah Islam sebagai agama harmoni. Dialah model kehidupan bagi kaum muslim dan guru bagi kemanusiaan yang mengedepankan damai dan harmoni. Karenanya, saya sependapat dengan Jamal MA Al-Nessafi, Dubes Kuwait untuk Indonesia, pada tahun 2002, yang menegaskan bahwa most moslems in Indonesia love peace.
Langkah Strategis Agar wajah Islam yang damai dan penuh harmoni dapat ditampilkan di negeri ini, lima butir gagasan yang direnungkan Dr Rifat Sayid (Focus, 2002:162) seorang intelektual Mesir, politikus, dan jurnalis perlu menjadi langkah strategis tokoh-tokoh Islam di Indonesia.
Pertama; Islam harus dibebaskan dari tangan-tangan yang menyalahgunakan nama Islam demi kepentingan egoisnya yang justru mencoreng wajah Islam. Kedua; generasi muda Islam harus memegang idealisme, nilai-nilai dan prinsip-prinsip keislaman yang benar dan humanis.
Ketiga; intelektual Islam perlu bergandengan tangan membentuk dan menyusun masyarakat yang lebih manusiawi berdasarkan otoritas Islam. Keempat; dibutuhkan keberanian untuk menolak aneka pencampuradukan antara agama dan pemikiran-pemikiran keagamaan yang ekstrem, radikal, dan fundamentalis. Kelima; bekerja sama dengan media masa mentransformasi kehidupan dengan cahaya pemikiran dan otentisitas keislaman.
Semoga umat Islam di Indonesia makin menampilkan keaslian wajah Islam sejati sebagai agama yang mewartakan damai, harmoni, dan kerukunan di antara umat manusia. Mari kita hidup damai sebagai saudara-saudari yang sama-sama mewarisi iman Ibrahim leluhur kita, yang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatannya dikenang pada Hari Raya Idul Adha. Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H. (10)
— Aloys Budi Purnomo, rohaniwan, budayawan interreligius, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/16/130303/Harmoni-Islam-Agama-Damai
24 11 2010
KETIKA mengikuti Islamic Studies di Fakultas Kepausan Teologi Wedhabakti, Yogyakarta (1996), dosen saya Prof Dr H Amin Abdullah, membuka pemahaman saya, bahwa Islam adalah agama damai dan mengedepankan harmoni. Karenanya, umat Islam berkewajiban membangun hidup dalam damai dan harmoni dengan siapa saja, semua orang, apapun agama dan keyakinannya. Seorang muslim sejati hidup dalam spirit of total submission to Allah, yang adalah damai.
Kata Islam berakar dari kata Arab, SLM, kata benda yang diturunkan dari aslama yang berarti penyerahan diri kepada Allah. Itulah sebabnya Islam bernuansa damai, harmoni, dan penyerahan diri. Islam adalah agama yang dilandaskan pada penyerahan total kepada Allah.
Meminjam gagasan Maryam Jameelah dalam Islam in Theory and Practice (Lahore, Sant Nagar, 1967:37), setiap orang yang menganut agama Islam disebut kaum muslim. Seorang muslim sejati tidak akan menjadi fanatik, tetapi cinta damai, mengedepankan harmoni dan rasa aman bagi sesama.
Dalam bahasa Arab, kata yang dipakai untuk harmoni adalah ta’aluf. Ta’aluf berarti keakraban; kekariban, kerukunan, dan kemesraan, dan saling pengertian. Kata lain untuk harmoni dalam bahasa Arab adalah tawafuq, artinya persetujuan,
permufakatan, perjanjian, dan kecocokan, kesesuaian, keselarasan (J Milton Cowan, ed, A Dictionary of Modern Written Arabic, London, Macdonald & Evans Ltd, 1974).
Islam juga agama yang toleran sebagaimana dihayati oleh Nabi Muhammad SAW setelah menaklukkan Makkah. Kala itu, Sang Nabi menegaskan kepada setiap orang, termasuk para musuh yang ditaklukkan, untuk tetap merasa nyaman dan aman. Bahkan, gereja-gereja dan sinagoga-sinagoga tetap boleh menyelenggarakan pelayanan dan ibadah mereka tanpa harus dirundung ketakutan.
Pengalaman Nabi Muhammad memberi gambaran dan pemahaman kepada kita mengenai citra wajah Islam sebagai agama damai dan harmoni. Nabi Muhammad dipilih Allah untuk mewartakan pesan damai dan harmoni. Dan itulah makna wajah Islam yang sesungguhnya, menjunjung tinggi toleransi.
Dr Haykal, ilmuwan dari Mesir, Direktur Islamic Studies di Madrid menegaskan, Nabi Muhammad adalah figur besar dalam sejarah kemanusiaan karena sikap dan sifat hidupnya yang mengagumkan. Karena Sang Nabi mengubah sejarah, menjadi contoh moralitas hidup bagi kemanusiaan sepanjang zaman (Pascal Paulus OP, Harmony in Islam, 2002: 161).
Dengan demikian, kehidupan Nabi Muhammad SAW memberi gambaran yang baik, indah, dan cerah kepada kita mengenai wajah Islam sebagai agama harmoni. Dialah model kehidupan bagi kaum muslim dan guru bagi kemanusiaan yang mengedepankan damai dan harmoni. Karenanya, saya sependapat dengan Jamal MA Al-Nessafi, Dubes Kuwait untuk Indonesia, pada tahun 2002, yang menegaskan bahwa most moslems in Indonesia love peace.
Langkah Strategis Agar wajah Islam yang damai dan penuh harmoni dapat ditampilkan di negeri ini, lima butir gagasan yang direnungkan Dr Rifat Sayid (Focus, 2002:162) seorang intelektual Mesir, politikus, dan jurnalis perlu menjadi langkah strategis tokoh-tokoh Islam di Indonesia.
Pertama; Islam harus dibebaskan dari tangan-tangan yang menyalahgunakan nama Islam demi kepentingan egoisnya yang justru mencoreng wajah Islam. Kedua; generasi muda Islam harus memegang idealisme, nilai-nilai dan prinsip-prinsip keislaman yang benar dan humanis.
Ketiga; intelektual Islam perlu bergandengan tangan membentuk dan menyusun masyarakat yang lebih manusiawi berdasarkan otoritas Islam. Keempat; dibutuhkan keberanian untuk menolak aneka pencampuradukan antara agama dan pemikiran-pemikiran keagamaan yang ekstrem, radikal, dan fundamentalis. Kelima; bekerja sama dengan media masa mentransformasi kehidupan dengan cahaya pemikiran dan otentisitas keislaman.
Semoga umat Islam di Indonesia makin menampilkan keaslian wajah Islam sejati sebagai agama yang mewartakan damai, harmoni, dan kerukunan di antara umat manusia. Mari kita hidup damai sebagai saudara-saudari yang sama-sama mewarisi iman Ibrahim leluhur kita, yang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatannya dikenang pada Hari Raya Idul Adha. Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H. (10)
— Aloys Budi Purnomo, rohaniwan, budayawan interreligius, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/16/130303/Harmoni-Islam-Agama-Damai
Langganan:
Postingan (Atom)